CERPEN
Oleh:
Hilma Amalina
Sebuah
cerita yang tak terlalu panjang, atau ringkasnya−pendek. Setiap kali aku
menulis cerpen untuk tugas-tugasku atau sekedar kesenanganku atau
keterpaksaanku aku menodong pada otakku untuk berpikir keras, apa yang akan aku
ceritakan. Ujung-ujungnya, pasti ini lagi−ini lagi. Suatu hal yang tak bisa
serta merta kudefinisikan, lalu kubuat-buat, dan sebisa mungkin kumodifikasi
supaya nampak keren. Itulah cerpenku.
Hidupku
adalah cerpen. Karena hidupku adalah sebuah cerita yang pendek. Dalam artian,
nyawaku yang tak banyak dan tak panjang. Sepotong balada hidupku yang tak bagus
diperdengarkan ataupun dilihat walaupun sekilas dari kejauhan. Seperti cerpen
yang dibuat manusia−hidupku juga nampak palsu dan penuh kepura-puraan. Aku
menulis cerpen untuk mengatakan pada alam raya, bahwa di sini, di ranjang besi
yang sudah terkelupas catnya ini, ada seonggok daging dan darah beserta ruh
seorang manusia yang sedang terkulai tak berdaya, yang sesekali matanya
memandang ke langit-langit yang banyak sawang-nya,
tentunya dengan pandangan semu. Aku. Hidupku yang semu ini kuhabiskan dengan
berbaring lemas dan membuat cerpen. Aku tak berani menulis novel atau sekedar
novelette, karena khawatir kalau-kalau masaku telah habis sebelum ceritaku
berhasil kuselesaikan. Tekad, semangat, nyali, ambisi, dan keinginanku untuk
bertahan hidup kini kian memudar. Pikirku, ‘hah, inilah aku yang hidup enggan,
mati tak mau. Jadi, lebih baik aku diam dan pasrah saja. Menunggu hariku. Bisu dan
menulis cerpen akan jauh lebih baik
untukku saat ini.’ Memang tolol aku ini. Pasti Tuhan akan murka melihat hamba
yang angkuh sepertiku. Biarlah. Lagipula aku ini lebih cocok dibilang atheis
daripada dibilang hamba yang beriman dan taat beragama. Apalagi? Bapakku Islam
‘abangan’ dan ibuku Islam ‘KTP’. Aku
anak tunggal yang dulunya sangat percaya apa
kata nenek dan memuja kalung berbandul
golok perak yang dulu kutemukan di bawah Pohon Asam di pinggir desa.
Semacam animisme-dinamisme. Gaya hidup primitive tapi banyak dipakai orang
zaman sekarang. Lebih kentara lagi jika diihat dari namaku. Anna Lee.
Sepertinya tak ada sedikitpun nilai religious di dalamnya. Kini, aku hanya
percaya pada diriku sendiri. Aku tak yakin aku percaya pada Tuhan, karena Tuhan
bersiap tak adil pada hidupku.
Di
Rumah Sakit ini aku sudah terbaring sekitar 2 bulan lamanya. Kamarku tipe kelas
2 dengan gorden warna kuning dan property
di seluruh ruangan yang warnanya senada. Di sini aku akan disuntik
sebanyak 3 kali dan harus minum obat yang pahit sebanyak 10 butir dalam sehari.
Suster-suster berseragam warna kuning, yang
bahannya terkesan sama dengan gorden di jendela ruangku, datang ke ranjangku
setiap 1 jam sekali. Mengecek infusku atau memeriksa tensi darah dan denyut
nadi. ”Semoga lekas sembuh, ya Mbak!” itu kata-kata para suster dan dokter yang
tak pernah absen kudengar setiap mereka habis memeriksaku atau pasien lain.
Padahal aku yakin, mereka berharap dalam hati agar para pasien semakin banyak
dan tak kunjung sembuh, sehingga gaji mereka akan dinaikkan. Pikiran yang jahat
memang. Lantas mau bagaimana lagi? Inilah pekerjaan mereka, dan setiap orang
pasti mengharapkan kenaikkan gaji, supaya bisa digunakan untuk bersenang-senang
bersama anak, istri, atau bahkan selingkuhan. Yah, bisa dibilang munafiklah!
Cerpen.
Hidupku adalah cerpen.
Aku selalu teringat akan percakapan singkatku
semasa SMA dengan teman-temanku. Singkat karena aku tak begitu akrab dan tak
pandai bergaul, atau lebih tepatnya tak bisa bicara. “An, sepertinya tidak ada
guna kau berada di sekolah ini. Sepanjang hari kau diam dan tak melakukan
apapun. Kau tak berusaha mencari teman atau bercanda dengan orang lain.” Ucap
mereka.
“Bukankah
sekolah ini ada, untuk tempat belajar? Bukannya untuk mencari teman atau
bercanda.” Jawabku.
“Hh...Aku
tak percaya megenalmu, An. Aku yakin, orang tuamu muak memiliki anak sepertimu,
dan kurasa seumur hidup takkan ada orang yang mendekatimu.” Mereka pun segera
pergi meninggalkanku tanpa menoleh lagi.
Tahukah?
Itu semua memang benar. Hingga sekarang hanya ada satu temanku. Cerpen.
Bapak-ibuku sepertinya lebih cinta dengan pekerjaan mereka masing-masing atau
dengan simpanan mereka masing-masing. Aku ragu mereka tahu tentang penyakitku,
walaupun dulu pernah kuceritakan kepada mereka. Menyakitkan.
“Pak,
aku sakit.” Ucapku suatu ketika.
“Apa
kamu mau mempercepat matiku? Tak usahlah kamu bercanda. Bapak sudah punya
banyak masalah yang lebih penting di kantor daripada bualanmu itu. Apa kamu
butuh uang? Bilang saja berapa, akan bapak beri. Jangan dusta seperti katamu
barusan.” Jawab bapak.
“
Aku sungguh-sungguh, Pak.”
“
Hah, sudahlah! Bilang saja sana sama ibumu. Bapak sibuk.” Hanya itu yang
dikatakan bapak. Tak ada lagi. Bapak kembali sibuk berkutat dengan i-padnya. Kemudian Aku pergi dengan
amarah yang kian membuncah di dadaku, seakan siap meledak detik itu juga.
Karena
hal itu, aku kabur dari rumah. Pikirku, bagaimana mungkin ada bapak yang sama sekali tak
peduli dan sama sekali tak mau tahu nasib anaknya. Percaya pun tidak. Apalah
artinya diriku.
Hari ketiga setelah acara kaburku, aku datang
ke kantor ibu untuk berbicara perihal penyakitku dan barangkali meminta setitik
belas kasihan padanya. Mulanya semua baik-baik saja sejak aku masuk gedung
perkantoran hingga berdiri tepat di depan pintu ruangan ibu. Namun, saat
kuputar engsel pintu itu, terdengar percakapan antara pria dan wanita. Aku
yakin wanita itu ibu, tetapi aku tak tahu siapa pria yang sedang berbicara
dengannya.
“Mas,
kapan kita bunuh Si Kutu Tua itu? Aku sudah sangat bosan hidup dengannya.
Setiap hari dia kerja dan tak pernah sekalipun mempedulikan aku.” Ucap Ibuku.
“Ah,
yang benar saja. Bagaimana mungkin kamu mau mebunuh suamimu sendiri? Lagipula,
apa kata Anna nanti, jika ibunya ketahuan mebunuh bapaknya.” Jawab Si Pria.
“Biarlah
aku jadi istri durhaka dan terkutuk. Aku hampir mati karenanya. Soal Anna,
seharusnya kamu tak usah khawatir, Mas. Diakan bukan anak lelaki tua itu. Dia
anak kita berdua.”
Aku
sangat terkejut mendengar semua ini, dan aku sangat jijik pada ibuku.
Ibuku adalah seorang wanita murahan! Tangisku tak dapat kubendung
lagi. Bertambah luka di sekujur jiwa dan ragaku. Kucoba bersabar dan
mendengarkan lagi percakapan mereka.
“Ya,
aku tahu dia anakku, tetapi dia tak tahu aku ini bapaknya. Terserahlah apa
maumu, walau begitu aku akan tetap mendukungmu, Nin! Dan setelah kita bunuh
suamimu, akankah kita menikah?” Tanya Si Pria lagi.
“Tentu
saja! Tetapi, istrimu?”
“Jangan
pusing. Akan kuceraikan dia. Oh, iya. Jangan lupa ambil semua harta suamimu.
Kita akan bersenang-senang dengan uang itu.” Pinta Si Pria.
“Iya,
Mas. Apa yang tidak untukmu?” kemudian aku lihat mereka berpelukan.
Rasanya
ingin muntah aku ini. Kuputuskan untuk pergi. Menghilang, dan kembali menulis
cerpen.
*****
Aku
menulis cerpen. Mengikuti lomba-lomba yang diiklankan di jejaring social atau
di harian public. Aku menang, dan kuhabiskan uang itu untuk membayar
pengobatanku hingga saat ini. Tak ada seorangpun dari keluargaku yang pernah
mengunjungiku, dan aku tak tahu kabar apapun tentang mereka semua. Ya, ini
semua sudah terjadi sejak 2 bulan lalu. Oh, tidak, tidak. Hal ini sudah terjadi
sejak aku lahir. Aku yang selalu sendiri sejak dilahirkan. Hmm, tak apalah. Tak
usah kupusingkan hidupku ini. Toh, aku hidup tinggal beberapa jam lagi. Aku
bertahan hidup dengan sisa uangku yang kian menipis dan kini aku mulai
memikirkan tentang masalah penguburanku. Siapa yang sudi merawat jenazahku?
Siapa yang mau menyolati dan mengkafani ku? Siapa yang rela menguburkanku dan
menziarahiku? Dan siapa yang mau membayar para penggali kubur untukku? Keluarga
tak punya, teman tak punya. Hanya aku. Mati dengan cerpenku.
*****
Tiiiit………………..!
terdengar suara mesin dari ruangan Anna.
“Dokter,
Dokter, cepat kemari, nyawanya melayang!” Ucap salah seorang suster
beseragam kuning.
*****
teruskan!!! mantep
ReplyDeleteaku bingung dengan alurnya yang terlalu singkat.
ReplyDeletesudut pandangnya juga ..
yang aku suka itu gaya bahasanya..
alurnya campuran itu.maju mundur.ada sesi flashbacknya.sbenernya itu tugas.panjang ceritanya di batasi.inti ceritanya, orang yang kurang perhatian keluarg.pelampiasannya cerpen
ReplyDeletetak ada perasaan yang tertangkap ketika membacanya ..
ReplyDeleteyang ku dapat adalah sikap frustasi...
dan kenapa tiba2 meninggal ?
dari awal kan udah saya tulis, set nya di rumah sakit. di sini juga dijelaskan dia sudah opname selama 2 bulan, jelas dia sedang sakit parah.tokoh ini merasa kurang perhatian dari keluarganya. karkter tokoh ini tebentuk karena situasi dalam keluarga yang sama sekali gak oke. pelariannya pun ke cerpen.dia gak pernah cerita tentang beban hidupnya sama orang, karena gak punya teman.yang bisa dia lakukan cuma melampiaskan kegundahannya dalm bentuk cerpen. nah, kisah hidupnya inilah, cerpen terakhirnya, sampai kemudian dia mati tanpa ada satu pun kerabatnya yang tahu.
ReplyDelete