SAYA MENUNGGU BAPAK
Hilma Amalina
Bapak telah lama pergi dan tak kunjung kembali
Saya sungguh merindu akan engkau...Bapak
Saya tadi menengok ke belakang bahtera
yang ada hanya buih-buih kecil yang acuh...
kata para tetua, mungkin Bapak disitu....
Tapi saya jadinya kalang kabut bukan kepalang...
Saya melihat jejak tapak
Tapi Bapak tiada
Saya takut dan jadi buruk sangka
Mungkinkah Bapak diajak bermain oleh Si Ombak?
Hah, Saya kan sudah bilang...
Jangan main sama Si Ombak...
Dia nakal, suka main sampai lupa waktu
Jadinya Bapak Saya tak kunjung pulang...
Tak lihatkah?
Emak Saya diam sambil merenung...
Demikian sepanjang hari
Sampai beliau lupa masak buat anaknya ini
Saya sudah menelusur kebukit karang seberang
Tapi yang Saya temui cuma angin
Eh...angin meledek Saya dan mencibir dari belakang
Huh...lihat nanti kalau Bapak pulang...
Dia akan membawa sekeranjang ikan
Dia berjalan sambil terenyum lebar pada Saya...
Nanti Saya makan ikan itu dan akan Saya sisihkan durinya.
Durinya itu untuk menusuk angin dan ombak nakal
Tapi Emak bilang, "tiada gunanya menunggu Bapak, dia sudah tiada".
Lalu Saya jawab, "saya mau menunggu Bapak kok. Pasti Bapak Pulang memikul sekeranjang ikan".
puisi yang sangat bagus, indah sekli makna puisinya. pnjelasan akan lebih inda jika lebih bisa memainkan majas. gaya bahasa usahakan satu jenis
ReplyDelete