SAPE DAME
Cucur Darah
Hitam Merah
Dalam Gundah
Bui Rebah
Mundur Kalah
Maju Gairah
Sudah Terpilah
Sapi Perah
Dasi Merah
Monday, 29 April 2013
Saturday, 27 April 2013
Sajak Hamba
?
Tiri tidur dalam buaian...
Dia menangis tak henti...
mungkin dia minta susu
Tapi yang mengayunya kakek tua...
wajahnya kriput...
bajunya lusuh...
Kakek itu sakit-sakitan
Ibu menghilang lama...
Beliau bekerja di negeri orang...
Ibu mencari nafkah
Ayah berpulang sejak kala...
Beliau tersungkur oleh tirani...
Ayah tak meninggalkan pesan
Aku tak mau susah...
Biar Si Tiri meraung sepuasnya...
Nanti kalau lelah dia juga diam sendiri
Lagipula dia 'Tiri'....
Tiri tidur dalam buaian...
Dia menangis tak henti...
mungkin dia minta susu
Tapi yang mengayunya kakek tua...
wajahnya kriput...
bajunya lusuh...
Kakek itu sakit-sakitan
Ibu menghilang lama...
Beliau bekerja di negeri orang...
Ibu mencari nafkah
Ayah berpulang sejak kala...
Beliau tersungkur oleh tirani...
Ayah tak meninggalkan pesan
Aku tak mau susah...
Biar Si Tiri meraung sepuasnya...
Nanti kalau lelah dia juga diam sendiri
Lagipula dia 'Tiri'....
Sajak Hamba
Laut adalah...
Hilma Amalina
Laut adalah sebuah perihal...
Dimana ada bayu dan banyu...
Disana ada milyaran pandang tak usai...
Laut adalah sebuah hasrat...
Tenang saat angin menerpa wajahku....
Hingga tergelincir bergulung, bersama Ombak nan rona...
Laut adalah sebuah mimpi...
Kala malam, tetes Banyu menusuk...
membentang khayalku akan ketidakpastian
Laut adalah sebuah harapan...
menjadi sepertimu ialah bujukan yang tak pernah usai
di dalam rengkuh rangkul runyam yang semu
Laut adalah sebuah jerih payah...
Hilma Amalina
Laut adalah sebuah perihal...
Dimana ada bayu dan banyu...
Disana ada milyaran pandang tak usai...
Laut adalah sebuah hasrat...
Tenang saat angin menerpa wajahku....
Hingga tergelincir bergulung, bersama Ombak nan rona...
Laut adalah sebuah mimpi...
Kala malam, tetes Banyu menusuk...
membentang khayalku akan ketidakpastian
Laut adalah sebuah harapan...
menjadi sepertimu ialah bujukan yang tak pernah usai
di dalam rengkuh rangkul runyam yang semu
Laut adalah sebuah jerih payah...
Friday, 26 April 2013
Sajak Hamba
SAYA MENUNGGU BAPAK
Hilma Amalina
Bapak telah lama pergi dan tak kunjung kembali
Saya sungguh merindu akan engkau...Bapak
Saya tadi menengok ke belakang bahtera
yang ada hanya buih-buih kecil yang acuh...
kata para tetua, mungkin Bapak disitu....
Tapi saya jadinya kalang kabut bukan kepalang...
Saya melihat jejak tapak
Tapi Bapak tiada
Saya takut dan jadi buruk sangka
Mungkinkah Bapak diajak bermain oleh Si Ombak?
Hah, Saya kan sudah bilang...
Jangan main sama Si Ombak...
Dia nakal, suka main sampai lupa waktu
Jadinya Bapak Saya tak kunjung pulang...
Tak lihatkah?
Emak Saya diam sambil merenung...
Demikian sepanjang hari
Sampai beliau lupa masak buat anaknya ini
Saya sudah menelusur kebukit karang seberang
Tapi yang Saya temui cuma angin
Eh...angin meledek Saya dan mencibir dari belakang
Huh...lihat nanti kalau Bapak pulang...
Dia akan membawa sekeranjang ikan
Dia berjalan sambil terenyum lebar pada Saya...
Nanti Saya makan ikan itu dan akan Saya sisihkan durinya.
Durinya itu untuk menusuk angin dan ombak nakal
Tapi Emak bilang, "tiada gunanya menunggu Bapak, dia sudah tiada".
Lalu Saya jawab, "saya mau menunggu Bapak kok. Pasti Bapak Pulang memikul sekeranjang ikan".
Hilma Amalina
Bapak telah lama pergi dan tak kunjung kembali
Saya sungguh merindu akan engkau...Bapak
Saya tadi menengok ke belakang bahtera
yang ada hanya buih-buih kecil yang acuh...
kata para tetua, mungkin Bapak disitu....
Tapi saya jadinya kalang kabut bukan kepalang...
Saya melihat jejak tapak
Tapi Bapak tiada
Saya takut dan jadi buruk sangka
Mungkinkah Bapak diajak bermain oleh Si Ombak?
Hah, Saya kan sudah bilang...
Jangan main sama Si Ombak...
Dia nakal, suka main sampai lupa waktu
Jadinya Bapak Saya tak kunjung pulang...
Tak lihatkah?
Emak Saya diam sambil merenung...
Demikian sepanjang hari
Sampai beliau lupa masak buat anaknya ini
Saya sudah menelusur kebukit karang seberang
Tapi yang Saya temui cuma angin
Eh...angin meledek Saya dan mencibir dari belakang
Huh...lihat nanti kalau Bapak pulang...
Dia akan membawa sekeranjang ikan
Dia berjalan sambil terenyum lebar pada Saya...
Nanti Saya makan ikan itu dan akan Saya sisihkan durinya.
Durinya itu untuk menusuk angin dan ombak nakal
Tapi Emak bilang, "tiada gunanya menunggu Bapak, dia sudah tiada".
Lalu Saya jawab, "saya mau menunggu Bapak kok. Pasti Bapak Pulang memikul sekeranjang ikan".
Thursday, 25 April 2013
Sebuah Kisah
CERPEN
Oleh:
Hilma Amalina
Sebuah
cerita yang tak terlalu panjang, atau ringkasnya−pendek. Setiap kali aku
menulis cerpen untuk tugas-tugasku atau sekedar kesenanganku atau
keterpaksaanku aku menodong pada otakku untuk berpikir keras, apa yang akan aku
ceritakan. Ujung-ujungnya, pasti ini lagi−ini lagi. Suatu hal yang tak bisa
serta merta kudefinisikan, lalu kubuat-buat, dan sebisa mungkin kumodifikasi
supaya nampak keren. Itulah cerpenku.
Hidupku
adalah cerpen. Karena hidupku adalah sebuah cerita yang pendek. Dalam artian,
nyawaku yang tak banyak dan tak panjang. Sepotong balada hidupku yang tak bagus
diperdengarkan ataupun dilihat walaupun sekilas dari kejauhan. Seperti cerpen
yang dibuat manusia−hidupku juga nampak palsu dan penuh kepura-puraan. Aku
menulis cerpen untuk mengatakan pada alam raya, bahwa di sini, di ranjang besi
yang sudah terkelupas catnya ini, ada seonggok daging dan darah beserta ruh
seorang manusia yang sedang terkulai tak berdaya, yang sesekali matanya
memandang ke langit-langit yang banyak sawang-nya,
tentunya dengan pandangan semu. Aku. Hidupku yang semu ini kuhabiskan dengan
berbaring lemas dan membuat cerpen. Aku tak berani menulis novel atau sekedar
novelette, karena khawatir kalau-kalau masaku telah habis sebelum ceritaku
berhasil kuselesaikan. Tekad, semangat, nyali, ambisi, dan keinginanku untuk
bertahan hidup kini kian memudar. Pikirku, ‘hah, inilah aku yang hidup enggan,
mati tak mau. Jadi, lebih baik aku diam dan pasrah saja. Menunggu hariku. Bisu dan
menulis cerpen akan jauh lebih baik
untukku saat ini.’ Memang tolol aku ini. Pasti Tuhan akan murka melihat hamba
yang angkuh sepertiku. Biarlah. Lagipula aku ini lebih cocok dibilang atheis
daripada dibilang hamba yang beriman dan taat beragama. Apalagi? Bapakku Islam
‘abangan’ dan ibuku Islam ‘KTP’. Aku
anak tunggal yang dulunya sangat percaya apa
kata nenek dan memuja kalung berbandul
golok perak yang dulu kutemukan di bawah Pohon Asam di pinggir desa.
Semacam animisme-dinamisme. Gaya hidup primitive tapi banyak dipakai orang
zaman sekarang. Lebih kentara lagi jika diihat dari namaku. Anna Lee.
Sepertinya tak ada sedikitpun nilai religious di dalamnya. Kini, aku hanya
percaya pada diriku sendiri. Aku tak yakin aku percaya pada Tuhan, karena Tuhan
bersiap tak adil pada hidupku.
Di
Rumah Sakit ini aku sudah terbaring sekitar 2 bulan lamanya. Kamarku tipe kelas
2 dengan gorden warna kuning dan property
di seluruh ruangan yang warnanya senada. Di sini aku akan disuntik
sebanyak 3 kali dan harus minum obat yang pahit sebanyak 10 butir dalam sehari.
Suster-suster berseragam warna kuning, yang
bahannya terkesan sama dengan gorden di jendela ruangku, datang ke ranjangku
setiap 1 jam sekali. Mengecek infusku atau memeriksa tensi darah dan denyut
nadi. ”Semoga lekas sembuh, ya Mbak!” itu kata-kata para suster dan dokter yang
tak pernah absen kudengar setiap mereka habis memeriksaku atau pasien lain.
Padahal aku yakin, mereka berharap dalam hati agar para pasien semakin banyak
dan tak kunjung sembuh, sehingga gaji mereka akan dinaikkan. Pikiran yang jahat
memang. Lantas mau bagaimana lagi? Inilah pekerjaan mereka, dan setiap orang
pasti mengharapkan kenaikkan gaji, supaya bisa digunakan untuk bersenang-senang
bersama anak, istri, atau bahkan selingkuhan. Yah, bisa dibilang munafiklah!
Cerpen.
Hidupku adalah cerpen.
Aku selalu teringat akan percakapan singkatku
semasa SMA dengan teman-temanku. Singkat karena aku tak begitu akrab dan tak
pandai bergaul, atau lebih tepatnya tak bisa bicara. “An, sepertinya tidak ada
guna kau berada di sekolah ini. Sepanjang hari kau diam dan tak melakukan
apapun. Kau tak berusaha mencari teman atau bercanda dengan orang lain.” Ucap
mereka.
“Bukankah
sekolah ini ada, untuk tempat belajar? Bukannya untuk mencari teman atau
bercanda.” Jawabku.
“Hh...Aku
tak percaya megenalmu, An. Aku yakin, orang tuamu muak memiliki anak sepertimu,
dan kurasa seumur hidup takkan ada orang yang mendekatimu.” Mereka pun segera
pergi meninggalkanku tanpa menoleh lagi.
Tahukah?
Itu semua memang benar. Hingga sekarang hanya ada satu temanku. Cerpen.
Bapak-ibuku sepertinya lebih cinta dengan pekerjaan mereka masing-masing atau
dengan simpanan mereka masing-masing. Aku ragu mereka tahu tentang penyakitku,
walaupun dulu pernah kuceritakan kepada mereka. Menyakitkan.
“Pak,
aku sakit.” Ucapku suatu ketika.
“Apa
kamu mau mempercepat matiku? Tak usahlah kamu bercanda. Bapak sudah punya
banyak masalah yang lebih penting di kantor daripada bualanmu itu. Apa kamu
butuh uang? Bilang saja berapa, akan bapak beri. Jangan dusta seperti katamu
barusan.” Jawab bapak.
“
Aku sungguh-sungguh, Pak.”
“
Hah, sudahlah! Bilang saja sana sama ibumu. Bapak sibuk.” Hanya itu yang
dikatakan bapak. Tak ada lagi. Bapak kembali sibuk berkutat dengan i-padnya. Kemudian Aku pergi dengan
amarah yang kian membuncah di dadaku, seakan siap meledak detik itu juga.
Karena
hal itu, aku kabur dari rumah. Pikirku, bagaimana mungkin ada bapak yang sama sekali tak
peduli dan sama sekali tak mau tahu nasib anaknya. Percaya pun tidak. Apalah
artinya diriku.
Hari ketiga setelah acara kaburku, aku datang
ke kantor ibu untuk berbicara perihal penyakitku dan barangkali meminta setitik
belas kasihan padanya. Mulanya semua baik-baik saja sejak aku masuk gedung
perkantoran hingga berdiri tepat di depan pintu ruangan ibu. Namun, saat
kuputar engsel pintu itu, terdengar percakapan antara pria dan wanita. Aku
yakin wanita itu ibu, tetapi aku tak tahu siapa pria yang sedang berbicara
dengannya.
“Mas,
kapan kita bunuh Si Kutu Tua itu? Aku sudah sangat bosan hidup dengannya.
Setiap hari dia kerja dan tak pernah sekalipun mempedulikan aku.” Ucap Ibuku.
“Ah,
yang benar saja. Bagaimana mungkin kamu mau mebunuh suamimu sendiri? Lagipula,
apa kata Anna nanti, jika ibunya ketahuan mebunuh bapaknya.” Jawab Si Pria.
“Biarlah
aku jadi istri durhaka dan terkutuk. Aku hampir mati karenanya. Soal Anna,
seharusnya kamu tak usah khawatir, Mas. Diakan bukan anak lelaki tua itu. Dia
anak kita berdua.”
Aku
sangat terkejut mendengar semua ini, dan aku sangat jijik pada ibuku.
Ibuku adalah seorang wanita murahan! Tangisku tak dapat kubendung
lagi. Bertambah luka di sekujur jiwa dan ragaku. Kucoba bersabar dan
mendengarkan lagi percakapan mereka.
“Ya,
aku tahu dia anakku, tetapi dia tak tahu aku ini bapaknya. Terserahlah apa
maumu, walau begitu aku akan tetap mendukungmu, Nin! Dan setelah kita bunuh
suamimu, akankah kita menikah?” Tanya Si Pria lagi.
“Tentu
saja! Tetapi, istrimu?”
“Jangan
pusing. Akan kuceraikan dia. Oh, iya. Jangan lupa ambil semua harta suamimu.
Kita akan bersenang-senang dengan uang itu.” Pinta Si Pria.
“Iya,
Mas. Apa yang tidak untukmu?” kemudian aku lihat mereka berpelukan.
Rasanya
ingin muntah aku ini. Kuputuskan untuk pergi. Menghilang, dan kembali menulis
cerpen.
*****
Aku
menulis cerpen. Mengikuti lomba-lomba yang diiklankan di jejaring social atau
di harian public. Aku menang, dan kuhabiskan uang itu untuk membayar
pengobatanku hingga saat ini. Tak ada seorangpun dari keluargaku yang pernah
mengunjungiku, dan aku tak tahu kabar apapun tentang mereka semua. Ya, ini
semua sudah terjadi sejak 2 bulan lalu. Oh, tidak, tidak. Hal ini sudah terjadi
sejak aku lahir. Aku yang selalu sendiri sejak dilahirkan. Hmm, tak apalah. Tak
usah kupusingkan hidupku ini. Toh, aku hidup tinggal beberapa jam lagi. Aku
bertahan hidup dengan sisa uangku yang kian menipis dan kini aku mulai
memikirkan tentang masalah penguburanku. Siapa yang sudi merawat jenazahku?
Siapa yang mau menyolati dan mengkafani ku? Siapa yang rela menguburkanku dan
menziarahiku? Dan siapa yang mau membayar para penggali kubur untukku? Keluarga
tak punya, teman tak punya. Hanya aku. Mati dengan cerpenku.
*****
Tiiiit………………..!
terdengar suara mesin dari ruangan Anna.
“Dokter,
Dokter, cepat kemari, nyawanya melayang!” Ucap salah seorang suster
beseragam kuning.
*****
Subscribe to:
Comments (Atom)