Thursday, 16 May 2013

Seminar Nasional Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi

Seminar Nasional dan Sosialisasi Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi

Rabu, 05 Desember 2012 14:03 WIB


Prof. Dr. Musa Asyarie membuka seminar dengan Gong Digital

(4/12/2012) Pusat Komputer dan Sistem Informatika (PKSI) UIN Sunan Kalijaga adakan Seminar nasional dengan tema "Digital Lifestyle Experience for Higher Education". Acara  ini diadakan digedung Convention Hall dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, karyawan dan masyarakat umum. Seminar ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy'arie dengan Gong Digital. Menurut Ketua PKSI, Agung Fatmanto, Ph.D., kegiatan ini diadakan sebagai komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam mewudkan kampus digital dan sebagai upaya membangun budaya  digital di perguruan tinggi. “ Di era globalisassi saat ini, perguruan tinggi harus memaksimalkan pengunaan tekhnologi digital, mengingat perkembangan arus informasi yang begitu pesatnya, hal ini sebagai imbas dari kemajuan dunia digital yang terjadi saat ini. Penerapan teknologi digital juga harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan teknologi komputerisasi bagi seluruh civitas kampus, baik dosen, pegawai dan mahasiswanya, agar menjadi sinergisitas”, tutur Agung Fatmanto yang juga dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi. Dalam seminar ini menghadirkan Ryan Fabella (Client Software Architec IBM), Pepita Gunawan (Indonesian Google Southeast Asia dan Agung Fatmanto, Ph.D. sebagai pembicara.
Dalam sambutannya Musa Asyarie menyampaikan bahwa, UIN Sunan Kalijaga akan senantiasa mengembangkan kampus menuju kampus digital, karena, dengan penerapan teknologi digital, semua akses informasi akan menjadi mudah. Perkembangan teknologi yang begitu pesat seharusnya kita manfaatkan dan direspons secara positif, jangan sampe dengan perkembangan itu kita malah menjadi keblinger. “ Saat ini kita sudah dikuasai oleh dunia ‘kotak’, karena sebagian besar alat teknologi yang kita gunakan berbentuk kotak, PC, Monitor, PC Tablet, HP, Laptop semuanya berbentuk kotak. Melihat hal ini, kita jangan sampai dikotak-kotakkan oleh barang ‘kotak’ ini. Karena dengan barang ‘kotak’ ini individualisme akan semakin meningkat, untuk itu filter dalam penggunaan teknologi di era digital ini sangat penting”, tutur Musa.
“ Dalam acara ini juga dihadiri oleh delegasi PTAIN se-Indonesia dan delegasi pusat komputer Perguruan Tinggi dan civitas Mahasiswa se-DIY ”, tambah Agung. *(Doni Tri W-Humas UIN Suka)
 

Wednesday, 8 May 2013

Sajak Hamba

Ibu


Ibu...
Maafkan daku
terlalu banyak aku membangkang
meremehkan pintamu, dengan menggerutu

Ibu...
Peluklah daku
biar kuluapkan rasa rinduku
memeriksa kenangan akan engkau dan daku

Wednesday, 1 May 2013


Sajak Hamba

Suasana Sekitar KOPMA


dari rumput kecil, tumbuh pohon pinang
rumput kecil, berbuah sepeda motor
rumput kecil, akar gedung menjulang
rumput kecil, truk paket
rumput kecil, jamu dan tukang jamu
rumput kecil, cilok
rumput kecil, batagor
rumput kecil, bakwan kawi
rumput kecil, mie ayam
rumput kecil, KOPMA
rumput kecil, ATM
rumput kecil, Bank
rumput kecil, POS SATPAM
rumput kecil, aku
rumput kecil, temanku

Monday, 29 April 2013

Sajak Hamba

SAPE DAME

Cucur Darah
Hitam Merah
Dalam Gundah
Bui Rebah
Mundur Kalah
Maju Gairah
Sudah Terpilah
Sapi Perah
Dasi Merah


Saturday, 27 April 2013

Sajak Hamba

?


Tiri tidur dalam buaian...
Dia menangis tak henti...
mungkin dia minta susu

Tapi yang mengayunya kakek tua...
wajahnya kriput...
bajunya lusuh...
Kakek itu sakit-sakitan

Ibu menghilang lama...
Beliau bekerja di negeri orang...
Ibu mencari nafkah

Ayah berpulang sejak kala...
Beliau tersungkur oleh tirani...
Ayah tak meninggalkan pesan

Aku tak mau susah...
Biar Si Tiri meraung sepuasnya...
Nanti kalau lelah dia juga diam sendiri

Lagipula dia 'Tiri'....

Sajak Hamba

Laut adalah...
Hilma Amalina


Laut adalah sebuah perihal...
Dimana ada bayu dan banyu...
Disana ada milyaran pandang tak usai...

Laut adalah sebuah hasrat...
Tenang saat angin menerpa wajahku....
Hingga tergelincir bergulung, bersama Ombak nan rona...

Laut adalah sebuah mimpi...
Kala malam, tetes Banyu menusuk...
membentang khayalku akan ketidakpastian

Laut adalah sebuah harapan...
menjadi sepertimu ialah bujukan yang tak pernah usai
di dalam rengkuh rangkul runyam yang semu

Laut adalah sebuah jerih payah...


Friday, 26 April 2013

Sajak Hamba

SAYA MENUNGGU BAPAK
Hilma Amalina


Bapak telah lama pergi dan tak kunjung kembali
Saya sungguh merindu akan engkau...Bapak
Saya tadi menengok ke belakang bahtera
yang ada hanya buih-buih kecil yang acuh...
kata para tetua, mungkin Bapak disitu....
Tapi saya jadinya kalang kabut bukan kepalang...
Saya melihat jejak tapak
Tapi Bapak tiada
Saya takut dan jadi buruk sangka
Mungkinkah Bapak diajak bermain oleh Si Ombak?

Hah, Saya kan sudah bilang...
Jangan main sama Si Ombak...
Dia nakal, suka main sampai lupa waktu
Jadinya Bapak Saya tak kunjung pulang...
Tak lihatkah?
Emak Saya diam sambil merenung...
Demikian sepanjang hari
Sampai beliau lupa masak buat anaknya ini

Saya sudah menelusur kebukit karang seberang
Tapi yang Saya temui cuma angin
Eh...angin meledek Saya dan mencibir dari belakang
Huh...lihat nanti kalau Bapak pulang...
Dia akan membawa sekeranjang ikan
Dia berjalan sambil terenyum lebar pada Saya...
Nanti Saya makan ikan itu dan akan Saya sisihkan durinya.
Durinya itu untuk menusuk angin dan ombak nakal

Tapi Emak bilang, "tiada gunanya menunggu Bapak, dia sudah tiada".
Lalu Saya jawab, "saya mau menunggu Bapak kok. Pasti Bapak Pulang memikul sekeranjang ikan".

Thursday, 25 April 2013

Sebuah Kisah


CERPEN

Oleh: Hilma Amalina

Sebuah cerita yang tak terlalu panjang, atau ringkasnya−pendek. Setiap kali aku menulis cerpen untuk tugas-tugasku atau sekedar kesenanganku atau keterpaksaanku aku menodong pada otakku untuk berpikir keras, apa yang akan aku ceritakan. Ujung-ujungnya, pasti ini lagi−ini lagi. Suatu hal yang tak bisa serta merta kudefinisikan, lalu kubuat-buat, dan sebisa mungkin kumodifikasi supaya nampak keren. Itulah cerpenku.

Hidupku adalah cerpen. Karena hidupku adalah sebuah cerita yang pendek. Dalam artian, nyawaku yang tak banyak dan tak panjang. Sepotong balada hidupku yang tak bagus diperdengarkan ataupun dilihat walaupun sekilas dari kejauhan. Seperti cerpen yang dibuat manusia−hidupku juga nampak palsu dan penuh kepura-puraan. Aku menulis cerpen untuk mengatakan pada alam raya, bahwa di sini, di ranjang besi yang sudah terkelupas catnya ini, ada seonggok daging dan darah beserta ruh seorang manusia yang sedang terkulai tak berdaya, yang sesekali matanya memandang ke langit-langit yang banyak sawang-nya, tentunya dengan pandangan semu. Aku. Hidupku yang semu ini kuhabiskan dengan berbaring lemas dan membuat cerpen. Aku tak berani menulis novel atau sekedar novelette, karena khawatir kalau-kalau masaku telah habis sebelum ceritaku berhasil kuselesaikan. Tekad, semangat, nyali, ambisi, dan keinginanku untuk bertahan hidup kini kian memudar. Pikirku, ‘hah, inilah aku yang hidup enggan, mati tak mau. Jadi, lebih baik aku diam dan pasrah saja. Menunggu hariku. Bisu dan menulis cerpen akan jauh lebih  baik untukku saat ini.’ Memang tolol aku ini. Pasti Tuhan akan murka melihat hamba yang angkuh sepertiku. Biarlah. Lagipula aku ini lebih cocok dibilang atheis daripada dibilang hamba yang beriman dan taat beragama. Apalagi? Bapakku Islam ‘abangan’ dan ibuku Islam ‘KTP’. Aku anak tunggal yang dulunya sangat percaya apa kata nenek dan memuja kalung berbandul golok perak yang dulu kutemukan di bawah Pohon Asam di pinggir desa. Semacam animisme-dinamisme. Gaya hidup primitive tapi banyak dipakai orang zaman sekarang. Lebih kentara lagi jika diihat dari namaku. Anna Lee. Sepertinya tak ada sedikitpun nilai religious di dalamnya. Kini, aku hanya percaya pada diriku sendiri. Aku tak yakin aku percaya pada Tuhan, karena Tuhan bersiap tak adil pada hidupku.

Di Rumah Sakit ini aku sudah terbaring sekitar 2 bulan lamanya. Kamarku tipe kelas 2 dengan gorden warna kuning dan property  di seluruh ruangan yang  warnanya senada. Di sini aku akan disuntik sebanyak 3 kali dan harus minum obat yang pahit sebanyak 10 butir dalam sehari. Suster-suster berseragam warna kuning, yang  bahannya terkesan sama dengan gorden di jendela ruangku, datang ke ranjangku setiap 1 jam sekali. Mengecek infusku atau memeriksa tensi darah dan denyut nadi. ”Semoga lekas sembuh, ya Mbak!” itu kata-kata para suster dan dokter yang tak pernah absen kudengar setiap mereka habis memeriksaku atau pasien lain. Padahal aku yakin, mereka berharap dalam hati agar para pasien semakin banyak dan tak kunjung sembuh, sehingga gaji mereka akan dinaikkan. Pikiran yang jahat memang. Lantas mau bagaimana lagi? Inilah pekerjaan mereka, dan setiap orang pasti mengharapkan kenaikkan gaji, supaya bisa digunakan untuk bersenang-senang bersama anak, istri, atau bahkan selingkuhan. Yah, bisa dibilang munafiklah!

Cerpen. Hidupku adalah cerpen.

 Aku selalu teringat akan percakapan singkatku semasa SMA dengan teman-temanku. Singkat karena aku tak begitu akrab dan tak pandai bergaul, atau lebih tepatnya tak bisa bicara. “An, sepertinya tidak ada guna kau berada di sekolah ini. Sepanjang hari kau diam dan tak melakukan apapun. Kau tak berusaha mencari teman atau bercanda dengan orang lain.” Ucap mereka.

“Bukankah sekolah ini ada, untuk tempat belajar? Bukannya untuk mencari teman atau bercanda.” Jawabku.

“Hh...Aku tak percaya megenalmu, An. Aku yakin, orang tuamu muak memiliki anak sepertimu, dan kurasa seumur hidup takkan ada orang yang mendekatimu.” Mereka pun segera pergi meninggalkanku tanpa menoleh lagi.

Tahukah? Itu semua memang benar. Hingga sekarang hanya ada satu temanku. Cerpen. Bapak-ibuku sepertinya lebih cinta dengan pekerjaan mereka masing-masing atau dengan simpanan mereka masing-masing. Aku ragu mereka tahu tentang penyakitku, walaupun dulu pernah kuceritakan kepada mereka. Menyakitkan.

“Pak, aku sakit.” Ucapku suatu ketika. 

“Apa kamu mau mempercepat matiku? Tak usahlah kamu bercanda. Bapak sudah punya banyak masalah yang lebih penting di kantor daripada bualanmu itu. Apa kamu butuh uang? Bilang saja berapa, akan bapak beri. Jangan dusta seperti katamu barusan.” Jawab bapak.

“ Aku sungguh-sungguh, Pak.”

“ Hah, sudahlah! Bilang saja sana sama ibumu. Bapak sibuk.” Hanya itu yang dikatakan bapak. Tak ada lagi. Bapak kembali sibuk berkutat dengan i-padnya. Kemudian Aku pergi dengan amarah yang kian membuncah di dadaku, seakan siap meledak detik itu juga.

            Karena hal itu, aku kabur dari rumah. Pikirku, bagaimana mungkin ada bapak yang sama sekali tak peduli dan sama sekali tak mau tahu nasib anaknya. Percaya pun tidak. Apalah artinya diriku.

 Hari ketiga setelah acara kaburku, aku datang ke kantor ibu untuk berbicara perihal penyakitku dan barangkali meminta setitik belas kasihan padanya. Mulanya semua baik-baik saja sejak aku masuk gedung perkantoran hingga berdiri tepat di depan pintu ruangan ibu. Namun, saat kuputar engsel pintu itu, terdengar percakapan antara pria dan wanita. Aku yakin wanita itu ibu, tetapi aku tak tahu siapa pria yang sedang berbicara dengannya.  

“Mas, kapan kita bunuh Si Kutu Tua itu? Aku sudah sangat bosan hidup dengannya. Setiap hari dia kerja dan tak pernah sekalipun mempedulikan aku.” Ucap Ibuku.

“Ah, yang benar saja. Bagaimana mungkin kamu mau mebunuh suamimu sendiri? Lagipula, apa kata Anna nanti, jika ibunya ketahuan mebunuh bapaknya.” Jawab Si Pria.

“Biarlah aku jadi istri durhaka dan terkutuk. Aku hampir mati karenanya. Soal Anna, seharusnya kamu tak usah khawatir, Mas. Diakan bukan anak lelaki tua itu. Dia anak kita berdua.”

Aku sangat terkejut mendengar semua ini, dan aku sangat jijik pada ibuku. Ibuku adalah seorang wanita murahan! Tangisku tak dapat kubendung lagi. Bertambah luka di sekujur jiwa dan ragaku. Kucoba bersabar dan mendengarkan lagi percakapan mereka.

“Ya, aku tahu dia anakku, tetapi dia tak tahu aku ini bapaknya. Terserahlah apa maumu, walau begitu aku akan tetap mendukungmu, Nin! Dan setelah kita bunuh suamimu, akankah kita menikah?” Tanya Si Pria lagi.

“Tentu saja! Tetapi, istrimu?”

“Jangan pusing. Akan kuceraikan dia. Oh, iya. Jangan lupa ambil semua harta suamimu. Kita akan bersenang-senang dengan uang itu.” Pinta Si Pria.

“Iya, Mas. Apa yang tidak untukmu?” kemudian aku lihat mereka berpelukan.

Rasanya ingin muntah aku ini. Kuputuskan untuk pergi. Menghilang, dan kembali menulis cerpen.

*****

Aku menulis cerpen. Mengikuti lomba-lomba yang diiklankan di jejaring social atau di harian public. Aku menang, dan kuhabiskan uang itu untuk membayar pengobatanku hingga saat ini. Tak ada seorangpun dari keluargaku yang pernah mengunjungiku, dan aku tak tahu kabar apapun tentang mereka semua. Ya, ini semua sudah terjadi sejak 2 bulan lalu. Oh, tidak, tidak. Hal ini sudah terjadi sejak aku lahir. Aku yang selalu sendiri sejak dilahirkan. Hmm, tak apalah. Tak usah kupusingkan hidupku ini. Toh, aku hidup tinggal beberapa jam lagi. Aku bertahan hidup dengan sisa uangku yang kian menipis dan kini aku mulai memikirkan tentang masalah penguburanku. Siapa yang sudi merawat jenazahku? Siapa yang mau menyolati dan mengkafani ku? Siapa yang rela menguburkanku dan menziarahiku? Dan siapa yang mau membayar para penggali kubur untukku? Keluarga tak punya, teman tak punya. Hanya aku. Mati dengan cerpenku.

*****

Tiiiit………………..! terdengar suara mesin dari ruangan Anna.

“Dokter, Dokter, cepat kemari, nyawanya melayang!” Ucap salah seorang suster beseragam kuning.

*****